JAKARTA – Indonesia akan masuk daftar negara pemilik bangunan pencakar langit tertinggi di dunia. Hal itu menyusul rencana raksasa properti Lippo Group membangun The St Moritz, proyek hunian terintegrasi di areal seluas 135 hektare di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. Ikon di kompleks prestisius itu adalah menara 56 lantai yang diklaim akan menjadi bangunan tertinggi di Indonesia.
“The St Moritz akan jadi ikon baru di Indonesia karena mencakup 17 gedung pencakar langit yang salah satunya mempunyai 65 lantai,” ujar Direktur Lippo Karawaci Michael Riady saat jumpa pers The St Moritz Penthouse and Residences kemarin (3/4).
Bangunan tertinggi di Indonesia saat ini adalah Peak Tower yang memiliki 55 lantai, disusul gedung BNI 46 yang juga memiliki 55 lantai. Di negara tetangga, gedung Petronas Malaysia lebih tinggi lagi dengan 88 lantai. Bangunan tertinggi di dunia akan dicapai Burj Dubai yang menyelesaikan konstruksi setinggi 850 meter akhir tahun ini.
Michael menegaskan, bangunan tertinggi itu digunakan untuk ruang perkantoran khusus bagi perusahaan-perusahaan papan atas yang masuk jajaran Top 500 Fortunes Companies. “Karena ini gedungnya kelas atas, jadi pemakainya harus kelas atas juga dong,” ujarnya.
Bangunan tertinggi dan terbesar di Indonesia itu diperkirakan menyedot investasi hingga USD 1,2 miliar (Rp 11 triliun). Kawasan terintegrasi dengan konsep vertikal tersebut dibangun dengan menggabungkan berbagai kelengkapan dan fasilitas umum sebanyak yang berstandar internasional dengan konsep 11-in-1. “Beberapa konsultan berkelas internasional akan dilibatkan,” terangnya.
PT Lippo Karawaci adalah anak bisnis Grup Lippo, milik taipan Mochtar Riady, yang bergerak di bisnis properti dengan nilai aset USD 1,1 miliar dan pendapatan USD 227 miliar pada 2007. Kota mandiri itu akan dibangun di atas tanah seluas 150 kali lapangan sepak bola. “Bukan hanya itu. Di dalamnya nanti juga berdiri kantor penjualan (sales building) properti terbesar se-Asia dengan luas 14 ribu meter persegi setinggi tujuh lantai,” tandasnya.
Michael yakin, The St Moritz tidak akan dapat disejajarkan dengan proyek properti lain di Indonesia. Perencanaan wilayahnya dibuat per blok, menyerupai kota kosmopolitan lain di dunia seperti London, New York. Mengenai dana Rp 11 triliun, Michael menyebut seluruhnya dari dana internal perseroan. “Dari dua pembiayaan, yaitu kas perusahaan dan pre-sales (penjualan tahap awal) sudah bisa menutupi investasi,” terangnya.
Menurut dia, pre-sales proyek-proyek yang dibangun Lippo Karawavi bisa menjadi andalan pembiayaan. Sebab, masyarakat menilai proyek buatan Lippo bisa dipercaya dan selalu menjadi aset investasi yang menguntungkan. Peletakan batu pertama megaproyek itu dilakukan di kuartal ketiga tahun ini. “Sekaligus kita lakukan pre-launching untuk menjual unit-unit apartemennya,” tambahnya.
Dalam tahap awal akan dibangun tiga tower apartemen, yaitu The St Moritz, The St Tropez, dan The St Monaco dalam 2,5 tahun. Ketiga apartemen tersebut dibangun dengan eksklusif dan private. The St Moritz hanya berisi empat unit apartemen per lantai. Kemudian The St Tropez akan berisi enam unit per lantai, dan The St Monaco berisi delapan unit per lantai.
Michael menyebutkan, The St Moritz akan dihuni sekitar 20 ribu orang, dan 13 ribu orang akan tinggal di apartemen. Di dalamnya akan berdiri gedung-gedung lain, seperti pusat perbelanjaan seluas 45 hektare, hotel berbintang lima dengan 500 kamar eksklusif yang akan dikelola Aryaduta, dan Convention Centre seluas enam hektare. “Selain itu, juga ada Siloam Hospital, Cinema 21, fasilitas fitnes, dan landasan helikopter (helipad),” jelasnya. (wir)
Ditulis pada April 3, 2008 oleh hilda alexander
Gebrakan Grup Lippo di sektor properti memang dahsyat. Melalui PT Lippo Karawaci Tbk., kelompok usaha milik klan Mochtar Riady ini giat mengembangkan proyek-proyek terbaru bernilai triliunan rupiah. Bukan sembarang proyek dan juga bukan sembarang kalkulasi bisnis, Lippo melansir kebanggaan baru yang kian meneguhkan eksistensi dan prestisnya sebagai salah satu raja properti Tanah Air
Seakan tak mau kalah dengan konglomerat properti lainnya macam PT Bakrieland Development Tbk., yang memelopori pengembangan sentra primer timur Jakarta di Pulo Gebang, Lippo secara resmi membesut dan menyulap sentra primer barat Jakarta di Puri Kembangan dengan proyek bertajuk The St. Moritz Penthouse and Residences pada 3 April 2008, di Aryadutta Hotel, Jakarta. Proyek senilai Rp11 triliun (1,2 miliar USD) ini mengusung konsep global city yang menghimpun lebih dari 11 fasilitas dan fungsi properti dalam satu area pengembangan secara integral.
The St Moritz Penthouse and Residences menempati area premium seluas 12 Ha di CBD Jakarta Bara. “Ini merupakan proyek pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berkonsep 11 in 1. Mengintegrasikan konsep kota baru vertikal dengan infrastruktur berstandar global, serta fasilitas umum yang dirancang sesuai komunitas internasional,” klaim Direktur PT Lippo Karawaci Tbk., Michael Riady.
Benarkah? Mari kita kuliti satu persatu. The St. Moritz Penthouse and Residences akan dibangun dalam 3 tahap pembangunan. Terdiri atas 2.600 unit apartemen, mal eksklusif seluas 450.000 m2 yang di dalamnya terdapat sarana hiburan sea world. Selain itu direncanakan pula hotel bintang lima berkapasitas 500 kamar dan dioperatori Aryadutta Group, convention center seluas 6.000 m2, country club dan spa 2.500 m2, dan wedding chappel.
Yang menarik, akan dibangun satu menara perkantoran setinggi 65 lantai berstatus strata title. Menara perkantoran ini didedikasikan untuk perusahaan-perusahaan yang masuk jajaran Top 500 Fortune Companies. Dengan demikian, ketinggian menara perkantoran ini mengalahkan gedung tertinggi di Indonesia yakni menara BNI 46.
Selain itu, terdapat juga fasilitas-fasilitas umum dan sosial lainnya macam sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pelita Harapan, kolam renang ukuran olimpik, Rumah Sakit Siloam Gleaneagles, dan landasan helikopter. Total seluruh luas bangunan adalah 1 juta m2.
Pengembangan The St Moritz akan dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama mencakup 3 tower apartemen yang diluncurkan secara simultan. Mereka adalah The St. Moritz, The St Tropez, dan St. Monaco. Menara St Moritz merupakan apartemen paling eksklusif dan dijual secara terbatas untuk masyarakat kelas premium. Harganya dimulai dari 1 juta dolar AS per unit dengan ukuran 300 m2. Karena itulah dinamakan St Moritz Penthouse.
Sedangkan St Tropez dan St Monaco dijual seharga 90.000-300.000 dolar AS dengan ukuran mulai dari 150 m2-300 m2. Untuk St Tropez, setiap lantainya hanya terdiri atas 4 unit, sementara St Monaco diisi 6 unit/lantai.
Ketiganya dijadwalkan selesai pada kuartal kedua 2010 dan kuartal pertama 2011. Sementara pengembangan keseluruhan diproyeksikan selesai dalam lima tahun ke depan.
Dilihat dari fakta dan angka tersebut jelas, The St. Moritz Penthouse and Residences merupakan mega proyek yang memenuhi syarat citus, altius dan fortius (swifter, higher, and stronger). Jika dibandingkan dengan mega proyek lainnya macam Ciputra World Jakarta atau superblok Podomoro City, Lippo boleh berbangga.
Ciputra World Jakarta yang juga menempati area seluas lebih kurang 11 Ha, hanya menghimpun kurang dari 10 gedung vertikal. Begitupula dengan Podomoro City. Sementara The St. Moritz Penthouse and Residences akan mencakup 17 skyscrapers (gedung pencakar langit) dengan total perimeter sepanjang 2,5 km.
The St. Moritz Penthouse and Residences hanya bisa ditandingi oleh Rasuna Epicentrum. Dilihat dari total investasi, keduanya setara. Hanya, PT Bakrieland Development Tbk., belum mengeluarkan angka resmi, berapa nilai investasi totalnya.
Global city yang dirancang oleh urban planner Gordon Benton ini menawarkan konsep kehidupan serba modern. Mulai dari pemanfaatan teknologi water recycling untuk memenuhi kebutuhan para penghuni dan tenan, juga pengelolaan waste water treatmentnya. “Teknologi ini memungkinkan penghuni mengkonsumsi air yang kita olah sendiri,” ujar Benton.
Adapun motivasi PT Lippo Karawaci Tbk., menggarap sentra primer barat Jakarta adalah pertama lokasinya strategis. Perusahaan ini mengakuisisi lahan yang sebelumnya milik PT Metropolitan Kentjana. Berada di intersection jalur Jakarta Outer Ring Road(JORR) Seksi Barat dam Tol Tomang-Kebun Jeruk. Serta dekat dengan jalur Tol Bandara Soekarno Hatta. “Lokasi kami memiliki toll access sendiri,” ujar Michael.
Dus, harga lahan dan properti di sini masih relatif lebih rendah dibanding di kawasan lainnya. Jadi, nilai propertinya akan terus bergerak naik seiring dilakukannya pembangunan The St. Moritz.
Yang berkelas dari Sahid Perdana dan The Financial Tower
Banyak gedung berkelas yang telah muncul di Indonesia. Tapi kini giliran menara kembar Sahid Perdana dan menara perkantoran The Financial Tower yang unjuk kehebatan dan sensasional.
Sahid Perdana berlokasi di Sahid City Superblok di Bilangan Sudirman, Jakarta Pusat. Sementara The Financial Tower berada di kawasan Rasuna Epicentrum, Bilangan Kuningan, Jakarta Selatan.
Keduanya tak aral melintang, akan masuk dalam profil proyek properti terbaik yang akan masuk dalam buku laris Architecture@07, bersama karya-karya arsitektur di Asia Tenggara, China, dan Australia. Buku itu sedianya akan beredar secara regional pada September depan.
Menurut penilaian BCI Asia, lembaga riset dan konsultan konstruksi regional yang menerbitkan buku itu, keduanya merupakan rancangan desain arsitektur Indonesia yang sangat maju sehingga layak mewakili Indonesia bersama karya-karya arsitektur di Asia Tenggara, China, dan Australia.
Keduanya memang masih dalam perancangan, tapi dalam tataran konsep dan kualitas arsitektur dinilai sangat baik.
Menara kembar Sahid Perdana terdiri dari 50 lantai hotel bintang lima dan 45 lantai gedung perkantoran dengan fasilitas modern mendukung kawasan superblok hunian diantara kesibukan aktivitas bisnis.
Sementara itu, The Financial Tower merupakan bentuk bangunan rangkaian cincin panel komposit alumunium berbentuk elips pada fa‡ade menara 12 lantai.
Dan, di belakang kedua proyek itu tampil, arsitek muda yang lagi naik daun, Ridwan Kamil, dari Urbane Indonesia.
Ridwan berkolaborasi dengan rekan-rekan arsiteknya dalam mewujudkan desain kedua proyek itu.
Menurut Dian Putra, Senior Riset dan Pengembangan BCI Asia kantor perwakilan Indonesia, kehebatan kedua desain arsitektur kedua proyek itu berakar pada kekuatan filosofi budaya lokal atau negeri sendiri.
222 Proyek
Dia membandingkan selama periode 2005 hingga medio 2007, BCI Asia mencatat 222 proyek gedung tinggi baru memasuki tahapan konstruksi, bahkan sebagian sudah beroperasi di kota-kota utama Indonesia, dengan lokasi sebagian besar tentunya di Jakarta.
Gedung di Indonesia dibangun dengan berbagai bentuk arsitektur, yang memiliki karakteristik masing-masing. Namun, tambahnya, dari begitu banyak bangunan yang sudah terbangun dan beroperasi, belum ada satu pun yang dibanggakan oleh warga Jakarta, apalagi bangsa Indonesia.
Tidak ada seperti halnya Menara Petronas di Kuala Lumpur yang menjadi simbol kemakmuran dan kerja keras serta nasionalisme bangsa Malaysia dan menjadi kebanggaan seluruh bangsa dan telah termasyhur di seluruh dunia.
Indonesia sudah 62 tahun merdeka, bukannya tidak mampu membangun. Terbukti sudah triliunan rupiah sudah ditanamkan dalam berbagai bangunan properti, baik berupa pusat belanja, pusat perdagangan, hunian apartemen, pusat kesenangan dan perkantoran.
Barulah desain menara Sahid Perdana dan The Financial Tower yang akan mencapai level kualitas internasional dengan kekuatan filosofi budaya lokal.
Sahid Perdana dikembangkan oleh PT Sahid Inti Dinamika itu, memiliki ruang pamer berukuran medium dan pusat pertunjukan kesenian yang diapit oleh menara kembar, dirancang untuk menjadi tempat penyelenggaraan pameran internasional, pementasan seni atau orkestra.
Sebuah fasilitas spa “spa in the sky” dirancang sebagai jembatan penghubung antargedung.
Desain menara berakar dari budaya jawa yang diwujudkan filosofi lotus kembar ke dalam bentuk elips menara. Filosofi lotus berdasarkan budaya Jawa sebagai simbol dua orang yang diarahkan oleh nilai-nilai religi yang kuat dalam situasi apapun.
Ridwan bersama rekannya, A.D. Tardiyana, merancang kulit menara dibagi oleh dua tampilan dinding tirai.
Dari lantai podium ke lantai 30 menampakkan menara dibalut kulit futuristik dan dari lantai 31 ke ujung menara dibungkus oleh tirai bermotif batik, yang menunjukkan sejarah panjang budaya batik jawa.
Pada gedung yang memiliki ketinggian hingga 210 meter ini, akan dibangun lantai penghubung ke gedung-gedung di sekitarnya yang berada dalam sebuah kawasan superblok, seperti Sahid Jaya Hotel, Istana Sahid Apartment, Sahid Sudirman Residence, Sahid Office Boutique dan Sahid Sahirman Memorial Hospital.
Lantai dasar dirancang untuk kafe, rumah makan dan butik fashion untuk menarik aktivitas masyarakat yang ada di jalan. Secara maraton proyek ini akan mulai memasuki tahap konstruksi pada awal 2008, dan diharapkan selesai pada akhir 2009.
Sementara itu, The Financial Tower merupakan rancangan gedung yang menyimbolkan visi optimisme industri keuangan Indonesia.
Arsitektur didesain dengan mengilap, berteknologi tinggi dan juga berbentuk aerodinamis.
Menurut Dian, gedung itu dirancang Ridwan Kamil bersama arsitek Rizal Muslimin dengan bendera firma arsitektur, Urbane Indonesia.
Dalam rancangan proyek itu, lanjutnya, konsep bangunan ramah lingkungan diterapkan seperti halnya pada rancangan untuk podium.
Taman dibangun menanjak, dari dasar atap podium dilapisi dengan penutup dasar berupa taman hijau. Ini menjadi simbol adanya keseimbangan antara teknologi modern dan kepedulian lingkungan.
Bangunannya yang berbentuk rangkaian cincin panel komposit alumunium berbentuk elips pada fa‡ade menara 12 lantai, merupakan analogi tumpukan uang koin, simbol pertumbuhan keuangan.
Menara melayang di tengah atap podium memberikan ruang anjungan dan caf‚ untuk orang duduk, bersantai dan menikmati hari dengan secangkir kopi.
Guna mendukung aktivitas keuangan, lantai atas disiapkan untuk ruang kesepakatan yang dirancang dengan teknologi seni yang tinggi.
Sementara itu, lantai dasar dirancang dengan konsep tanah lapang, menara menyatu dengan city walk dan area pejalan kaki di tepi sungai atau danau buatan.
Menurut BCI Asia, sebagai kebanggaan bangsa, dua proyek itu dapat menjadi tujuan wisata baru baik bagi warga kota, warga bangsa dan wisatawan mancanegara serta menjadi inspirasi bagi kemakmuran bersama. (irsad.sati@bisnis.co.id)
Oleh Irsad Sati
Wartawan Bisnis Indonesia
JAKARTA, Investor Daily
Setelah tertunda karena terpaan krisis ekonomi moneter, PT Ciputra Development Tbk melalui anak usahanya, PT Ciputra Adigraha, memutuskan melanjutkan pembangunan superblok Ciputra World di Jalan Dr Satrio, Jakarta Selatan, pada November 2007. Ciputra World merupakan nama baru dari Grand Mall Ciputra yang tertunda pembangunannya karena terpaan krisis ekonomi moneter, dengan nilai investasi mencapai Rp 2 triliun.
Direktur Ciputra Development Tulus Santoso mengatakan, Grand Mall Ciputra dirancang sejak tahun 1996, tetapi tak dilanjutkan akibat terpaan krisis ekonomi moneter pada paruh kedua 1997. “Setelah tertunda beberapa lama, akhirnya manajemen perseroan memutuskan untuk melanjutkan proyek tersebut,” ujar Tulus kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (5/7).
Ciputra Adigraha menganggarkan dana sebesar Rp 2 triliun untuk merealisasikan superblok itu. Sumber dana investasi berasal dari kas internal perusahaan sebesar 30% dari total investasi, dan sisanya dari dana pihak ketiga seperti pinjaman perbankan dan hasil presale .
Ciputra Adigraha merupakan perusahaan patungan antara Ciputra Development dengan kepemilikan saham sebesar 70%, Peninsula Group asal Hong Kong (20%), dan Natsteel Corporation asal Singapura (10%).
Rampung 2010
Pembangunan Ciputra World dibagi dalam dua tahap yang keseluruhan ditargetkan rampung pada akhir 2010. Saat ini, Ciputra Adigraha sedang mematangkan desain Ciputra World yang akan dibangun di atas lahan seluas 5,5 hektare (ha).
“Desain final kami harapkan selesai dalam satu dua bulan ini. Di Ciputra World, desain bangunannya akan bercirikan modern building dengan konsep green architecture dan hemat energi. Kami menggunakan RTKL Associates Inc dari Amerika Serikat sebagai konsultan desain dan arsitek ,” kata Tulus.
Tulus menjelaskan, pihaknya pada tahap pertama akan membangun mal lima lantai dengan luas 100.000 m². Kios-kios di dalam mal dipasarkan dengan sistem sewa pada kisaran harga US$ 40 per m² . “Pembangunan tahap pertama diharapkan selesai akhir 2009,” ujar dia.
Tahap kedua, kata Tulus, pihaknya akan membangun satu menara apartemen, hotel, dan gedung perkantoran. Ketiga bangunan yang masing-masing berketinggian 20 lantai tersebut merupakan satu kesatuan bangunan vertikal dengan bangunan mal. Bangunan mal menopang gedung apartemen, hotel dan perkantoran.
Ciputra akan membangun apartemen yang terdiri atas 400 unit apartemen dengan luas berkisar 150-400 m²per unit. Sebagian unit apartemen diperuntukkan sebagai apartemen servis.
Seperti halnya mal, semua ruang perkantoran seluas 40.000 m² di Ciputra World akan dipasarkan dengan sistem sewa. “Untuk hotel, kami akan membangun hotel bintang lima dengan jumlah kamar sekitar 200-300 unit. Pembangunan tahap kedua diharapkan selesai pada akhir 2010,” jelas Tulus.
Tulus optimistis Ciputra World akan diterima oleh pasar. Optimisme itu didasarkan pada prediksi bahwa bisnis properti tahun 2008 akan lebih bagus dibanding tahun ini. Prediksi itu didasarkan pada tren terjaganya inflasi yang rendah, penurunan BI rate yang diharapkan akan ikut menekan suku bunga kredit properti, maupun pertumbuhan ekonomi yang moderat di Indonesia.
Ketika disinggung mengenai peta persaingan bisnis properti di daerah Jakarta Selatan, Tulus menjawab ringan, ”Bisnis properti itu kalau semakin banyak pemainnya semakin bagus. Karena saling terintegrasi,” ujar dia.
Bangkitnya ‘Sang Raksasa’
Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda berpendapat, keputusan Grup Ciputra untuk kembali eksis mengembangkan megaproyek ibarat kata ‘bangkitnya kembali sang raksasa properti’.
“Dua tahun belakangan ini sebenarnya Grup Ciputra sedang konsolidasi keuangan. Mereka telah menyiapkan dana tersebut jauh-jauh hari,” kata Ali.
Ali pun menilai, superblok yang akan dibangun Ciputra di daerah Jakarta Selatan tetap prospektif. Sebab, di kawasan tersebut kebutuhan terhadap area komersial masih cukup tinggi.
“Apalagi, selama ini publik tahu bahwa Grup Ciputra kuat akan jaringan hotel dan malnya. Namun, sebaiknya proyek tersebut dilakukan secara bertahap, dan harus dengan konsep yang jelas dan beda. Proyek tersebut harus segera dibangun sebelum over value ,” ujar dia.
Ali menyarankan, pembangunan superblok tersebut harus memperhatikan masalah kapasitas jalan raya. Maksudnya, jika Ciputra tidak membangun akses jalan, yang timbul adalah kemacetan yang semakin menjadi-jadi.
Di kawasan Mega Kuningan, dalam amatan Ali, tidak banyak pengembang besar yang bermain. Kalau toh ada, itu sebatas konsorsium. “Setahu saya pengembang besarnya hanya ada, yakni Grup Dua Mutiara yang dipimpin oleh Tan Kian dengan proyek Ritz Carlton-nya. Dan yang baru akan masuk adalah Grup Pakuwon dengan Kota Kasablanka,” jelas dia. (her)
——————————————————————————-
The Ciputra World Jakarta, which is expected to cost about Rp 4.2 trillion to build, will be developed in stages over a period of between three and seven years. Construction will commence by the end of this year.
The 558,000 square meter Ciputra World superblock will be built on an 11-hectare plot in the heart of the city’s “Golden Triangle”, linking Jl. H.R. Rasuna Said, Jl. Jendral Sudirman and Jl. Gatot Subroto.
“The project will be developed in three phases. The first two are expected to be completed by 2010, while the date for the third has still not been decided. But it shouldn’t take longer than 2012,” company director Artadinata Djangkar said.
enggarap dua proyek superblok pada areal 22 hektare yang berlokasi di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
Dua proyek itu adalah Kemang Village (Jaksel) dan Paragon City (Jakbar).
Viven G. Sitiabudi, Presiden Direktur Lippo Karawaci, mengatakan Kemang Village dan Paragon City akan diluncurkan pada kuartal IV tahun ini.
“Kedua proyek ini sangat istimewa karena konsepnya mencerminkan integrasi area komersial, hunian, pendidikan, kesehatan dan entertainment yang saat ini telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat metropolitan,” katanya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, kemarin.
Viven tidak menyebutkan lebih lanjut soal berapa nilai investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan kedua proyek tersebut.
Sementara itu, Manajer Komunikasi Perusahaan Lippo Karawaci Danang Kemayan Jati mengatakan proyek itu akan menjadi proyek prestisius di Jakarta dengan investasi triliunan rupiah.
Saat ditanyakan beberapa lama proyek itu akan dikerjakan, Danang memperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk mengembangkannya.
Soal nilai investasi di kedua proyek itu, dia tidak menyebutkannya secara eksplisit. Tapi menurut dia, perusahaan akan menggunakan dana Rp2,3 triliun dari hasil penerbitan obligasi di luar negeri untuk pengembangan proyek tersebut.
“Dana obligasi dolar lalu [US$250 juta] akan dipakai untuk membiayai proyek ini dan akan ditambah dengan hasil dana penjualan pre-sale [penjualan di muka] proyek itu,” katanya.
Melihat proyek sejenis yang pernah dikembangkan pengembang, diperkirakan kedua proyek baru Lippo itu akan menelan investasi paling sedikit Rp5 triliun, bahkan bisa jauh lebih besar dari angka ini kalau skala dan level proyek itu masuk kelompok premium.
Presdir Lippo Karawaci menjelaskan proyek superblok Kemang Village terdiri dari pusat perbelanjaan, apartemen, hotel, rumah sakit dan SOHO (small office home office) dengan luas area yang akan dikembangkan sekitar 11 hektare.
Sementara itu, proyek Paragon City terdiri dari apartemen, apartemen & hotel, perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit serta ruang konvensi dengan luas yang sama dengan Kemang Village.
Cadangan lahan
Viven mengatakan pihaknya saat ini memiliki cadangan lahan pengembangan mencapai 1.951 ha, a.l. terdapat di Lippo Karawaci seluas 422 ha, Lippo Cikarang (1.086 ha), Tanjung Bunga, Makassar (419 ha), Puncak Resort (20 ha) dan Royal Serpong Village, dan Tangerang seluas 4 ha.
Lebih jauh, tuturnya, perusahaan sedang dalam tahap pengerjaan beberapa proyek hunian maupun retael di lahan itu.
Dia memberi contoh pengembangan perumahan estate Espana Residence seluas 4,6 ha di Makassar. Kemudian perumahan Vassa Residence di Lippo Cikarang. “Begitupun di Medan, proyek pembangunan hotel dengan 200 kamar sedang dikerjakan. Di Depok segera dikembangkan pula proyek apartemen.”
Dia menambahkan salah satu proyek besar yang telah dalam penggarapan adalah superblok City of Tomorrow.
Menurut dia, perkembangan proyek itu memperlihatkan tahap kemajuan yang signifikan yang diyakini selesai pada waktunya sehingga bisa beroperasi mulai Juli tahun depan. (irsad.sati@bisnis.co.id)
JAKARTA, Investor Daily
PT Lippo Karawaci Tbk akan mulai mengembangkan proyek multifungsi (mixed use) Kemang Village kuartal III 2006. Proyek yang berlokasi di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan itu berdiri pada lahan seluas dua hektare.
Direktur Lippo Karawaci Jopy Rusli mengatakan, proyek Kemang Village terdiri atas kondominium, hotel, dan pusat perbelanjaan. Proyek kondominium akan diberi nama Apartemen Kemang Village, proyek hotel diberi nama Hotel Aryaduta Regency, dan pusat perbelanjaan Kemang Village.
Jopy berharap, proses konstruksi dan pemasaran proyek tersebut bisa dimulai pertengahan tahun ini. “Kami perkirakan, September nanti Kemang Village mulai dipasarkan. Kalau bisa lebih cepat dari bulan itu, misalnya Juli, kami sangat bersyukur,” ujar Jopy kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (3/6) malam.
Berdasarkan data yang dirilis perusahaan konsultan properti PT Building & Construction Interchange (BCI) Asia yang diterima Investor Daily belum lama ini, Kemang Village terdiri atas proyek pusat perbelanjaan dengan luas bangunan 10.969 m² dan kondominium yang memiliki luas bangunan 51.415 m².
Selain itu, Lippo akan membangun hotel 200 kamar tidur. Luas bangunan hotel ini diperkirakan mencapai 13.398 m². “Hotel tersebut nantinya dikelola oleh Aryaduta,” ujar Jopy.
Untuk membangun proyek prestisius tersebut, Lippo dikabarkan menyiapkan dana sedikitnya Rp 400 miliar. Dikonfirmasi soal besaran investasi perusahaan tersebut pada proyek ini, Jopy mengaku belum bisa menyebutkan. “Nilainya masih kami hitung, bisa kurang atau lebih dari nilai (Rp 400 miliar, red) itu,” ujar dia.
Sebelumnya, Lippo juga tengah mempersiapkan pengembangan kawasan multifungsi Grand Paragon City di kawasan Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat. Proyek yang dibangun di lahan seluas kurang lebih empat hektare ini diperkirakan menelan investasi hingga Rp 600 miliar. Di kawasan itu nantinya berdiri sejumlah bangunan properti seperti hotel, apartemen, mal dan rumah toko. Untuk mengembangkan Grand Paragon City, Lippo menggandeng DP Architects PTE LTD sebagai tim ahli yang menangani arsitektur.
Medium High
Jopy mengungkapkan, pangsa pasar yang dibidik Lippo Karawaci dalam mengembangkan Kemang Village adalah kelas medium high. Selain itu, Lippo juga mengincar konsumen yang tinggal di wilayah Jakarta Selatan dan sekitarnya.
“Rental value untuk kawasan ini sangat bagus. Jadi, sebenarnya banyak orang yang ingin tinggal di daerah Jakarta Selatan, terutama Kemang. Kami memprediksi, khusus kondominium pangsanya lokal dan ekspatriat terbagi dua,” ujar Jopy.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Pusat Strategis Intelijen Properti (PSIP) Ali Tranghanda mengatakan, langkah Grup Lippo ekspansi ke kawasan sekitar Kemang sangat strategis. “Kawasan Prapanca itu sangat strategis setelah Pondok Indah overvalue,” ujar dia.
Ali menyebutkan, konsep properti multifungsi Lippo Karawaci dalam membangun Kemang Village akan memikat konsumen. Selain areal proyek tersebut masuk ke dalam pengembangan kawasan Kemang, harga tanah di sana relatif murah dibandingkan di Jalan Kemang Raya. Dia memprediksi harga tanah di Jalan Prapanca saat ini sekitar Rp 4 juta per m², sedangkan di Kemang mencapai Rp 5-6 juta per m².
“Karena itu, sebelum terjadi limitasi pasar properti di kawasan ini, Lippo harus buru-buru membangun proyeknya. Saya dengar, Grup Agung Podomoro juga membidik Kemang,” ujar Ali.
Berdasarkan catatan Investor Daily, saat ini Grup Lippo mengelola sejumlah proyek properti baru, mulai dari pengembangan kawasan hunian di Lippo Karawaci dan Lippo Cikarang, pembangunan proyek multifungsi City of Tomorrow di Surabaya, Binjai Supermal, Grand Palladium di dan kawasan hunian terpadu di Tanjung Bunga Makassar, Sulawesi Selatan. (c82)
Investasi Menarik di Lokasi Strategis
JAKARTA – Menyusul pengembangan kawasan Setiabudi di Jakarta Pusat, PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSI) meluncurkan Setiabudi Residence, sebuah apartemen strata title untuk kalangan menengah atas (medium upper). Ini merupakan langkah awal dari rencana besar JSI membangun kawasan terpadu Komplek Mega Setiabudi. Pasalnya, di kawasan yang sama telah berdiri properti berkelas seperti entertainment center Setiabudi Building 1 dan 2, Setiabudi Atrium, Apartemen Setiabudi dan Apartemen Kuningan. Bahkan di masa mendatang direncanakan dibangun hotel dan perkantoran.
Setiabudi Residence berlokasi di area yang sebelumnya dipakai sebagai lahan parkir Setiabudi Building di Jl.HR Rasuna Said. Pembangunan dimulai awal tahun 2005 dengan menggandeng Shimizu (Jepang) sebagai kontraktor utama.
Menurut Ryan Adrian, General Manager Marketing JSI, Setiabudi Residence terdiri dari dua tower berbentuk huruf L dengan total unit sebanyak 300 unit apartemen, mulai dari ukuran 82 meter persegi hingga 149 meter persegi.
“Target pasar kami ada tiga yaitu eksekutif dan profesional, para pensiunan dan company atau institusi. Dari ketiga segmen ini kami targetkan 50 persen dari eksekutif dan profesional, 25 persen pensiunan dan sisanya dari institusi,“ jelas Ryan.
Demi menyesuaikan fasilitas yang ada dengan market yang dibidik, Setiabudi Residence katanya, menyediakan sky lounge di lantai paling atas. Di situ akan dibangun beragam fasilitas seperti gymnasium, kolam renang, treatment counter, pub & lounge, meeting room dan lainnya. Dengan adanya sky lounge diharapkan penghuni mendapatkan kemewahan.
Ryan menambahkan, Setiabudi Residence direncanakan dibangun dalam 27 lantai ditambah tiga lantai basement. Menilik lokasi yang strategis dan fasilitas yang ada, pembeli Setiabudi Residence mendapat pilihan investasi yang cukup menarik. (rvs)

